Asma'ul Husna

Laman

Thursday, 10 July 2014

REHAT

Jiwa-jiwa yg terus kita gunakan mengejar dunia adakalanya perlu direhatkan. Luka hatinya diobati. Imannya disuburkan. Ketaatannya dirapihkan.

Menjadi sbh kebiasaan Muadz bin Jabal mengingatkan para sahabat utk sejenak merapihkan keimanan. "Ijlis bina nu'minu sa'ah. Mari, kita duduk sejenak utk merapikan iman kita."

Muadz dan para generasi terbaik umat ini sadar betapa hiruk pikuk dunia mbawa kecenderungan hati menjadi kian melenakan.

Maka dalam hidup, kita memerlukan semacam terminal rehat, "The elloquency of silence" kata Ivan Illich. Yakni kefasihan dalam diam..

Diam utk mendalami betapa kita terlalu lama disibukan dunia. Diam utk menginsafi betapa terlalu banyak lisan kita berkata-kata.

Akhi, saat kekhusyuan kita semakin jauh. Saat air mata kita kian mengering, dan saat iman tak lagi terasa manis dalam hati.. Saat itulah mungkin Allah tengah mengundang kita pada  terminal rehat di malam-malam sepertiga.

Allahumma ij'alil hayata ziyadatan lana fi kulli khaiir, waj'alil mauta rohatan lana minkulli syarr. Jadikan ya Allah, kehidupan kami sbg sarana menambah segala kebaikan. Dan jadikan kematian kami sebagai rehat dari segala keburukan.

Salam.
Hamba yg tersaruk mengejar Ramadhan

Oleh :
Dea Tantyo
Alumni 61-2006
** @Gamis61 (Keluarga Alumni Rohis SMAN 61 Jakarta) **
#edisi12

Monday, 30 June 2014

Cukang Taneuh (Green Canyon/Ngarai Hijau), Ciamis


Selasa, 17 Juni 2014 saya bersiap berangkat menuju Cukang Taneuh atau Green Canyon (Ngarai Hijau), tempat ini adalah salah satu objek wisata yang paling saya suka, meskipun masih banyak objek wisata indah lainnya di negri ini.

Sunday, 29 June 2014

Kala Sang Surya Hampir Tenggelam


Sore itu ketika ku mendapatkan jatah libur satu pekan kukayuhkan sepeda tuaku menuju rumah ayah, rumah yang tidak jauh dari tempatku tinggal, rumah yang selama ini menjadi tempat persinggahan kala hatiku gundah, rumah usang yang sebenarnya sudah tidak layak huni.

Thursday, 12 June 2014

KOPI SEMANGAT


Puluhan tahun sudah saya hidup di dunia ini, sebentar lagi (jika Allah menghendaki) saya mencapai seperempat abad. Umur yang patut disyukuri, karena banyak dari saudara-saudara kita yang tidak merasakannya, meskipun banyak juga yang merasakannya bahkan mencapai umur 100 tahun.

Pagi ini saya tidak ingin berbicara tentang umur, karena kita semua tahu bahwa umur manusia sudah ada yang menentukan dan kita sama sekali tidak dapat ikut campur didalamnya. Banyak manusia yang terlihat bugar tiba-tiba meninggal dunia, banyak juga mereka yang mengalami kecelakaan hebat tapi ajal tak menjemputnya, dan ada beberapa yang mencoba bunuh diri tapi gagal. Ya itulah hidup, manusia hanya dapat berharap dan Tuhan-lah yang menentukan, jika saya, ya Allah subhanahu wa ta'ala yang menentukan.

Pagi ini hampir terasa sama seperti pagi-pagi biasanya, kalimat "hampir" sebelum kalimat terasa mengindikasikan bahwa ada yang berbeda pagi ini. Tidak seperti biasanya, saya tersadarkan oleh tumpukan tugas yang mana itu adalah tanggungjawab saya, tugas yang selama ini terabaikan kembali ke permukaan untuk minta diselesaikan. Meskipun pagi-pagi sebelumnya saya juga berkutat dengan tugas, tapi kali ini berbeda, ya tingkat kefokusan saya harus ditingkatkan. Jika sebelumnya gadget selalu menemani, saat ini mau tidak mau saya harus menjauhkannya untuk bisa fokus mengerjakan tugas.

Sebenarnya jika dilihat tidak ada yang spesial dari tulisan ini, tulisan ini hanya sebagai teman untuk saya selalu ingat akan kewajiban yang harus dipenuhi keberadaannya, tulisan yang menjadi motivasi bagi siri saya sendiri, syukur-syukur jika orang lain juga termotivasi. Tulisan ini juga menjadi kopi semangat untuk dapat bergadang dalam kefokusan.

Pada akhirnya saya menyimpulkan, jika ingin fokus ada beberapa hal kecil yang harus dilakukan
  1. Niat, ikat kepala kencang-kencang dan katakan dengan lantang dalam hati bahwa kita bisa!
  2. Jauhkan sarana yang dapat mengganggu untuk sementara waktu seperti gadget.
  3. Ingat, tujuan di dunia ini hanya melakukan yang terbaik untuk dimintai pertanggungjawabannya.
  4. Umur tidak ada yang dapat memastikan.
  5. Bayangkan kebahagiaan masa depan yang akan diraih jika kita terus bersemangat untuk bersungguh-sungguh
Masih banyak sebenarnya yang harus diingat, lima poin di atas sedikit mewakili semuanya, semoga kopi semangat ini bisa menemani kita untuk terus bersungguh-sungguh

@Rikza_Adhia90

Wednesday, 28 May 2014

Cerdas Memilih


Katanya sekarang musimnya politik, pesta demokrasi dan pestanya rakyat, tapi saya sama sekali tidak memahami arti sesungguhnya dari pesta yang dimaksud. Karena setahu saya pesta merupakan suatu acara yang didalamnya dihiasi kesenangan dan kebahagiaan antara dua orang atau lebih, jika sendirian mungkin itu hanya kebahagiaan pribadi.

Tuesday, 20 May 2014

Keluarga Kecil di KSEI Progres

 

Petang ini ingin sekali saya menuliskan kisah tentang salah satu keluarga kecil yang saya miliki di kampus STEI Tazkia. Bertempat di Wisma Sunyaragi, sebuah hotel sederhana di kota Cirebon tempat dimana saya bermalam sampai dua hari kedepan.

Mewariskan Masa Depan

Cirebon, Selasa 20 Mei 2014

Pukul 09.00 kereta yang saya tumpangi memasuki stasiun Cirebon, kereta Cirebon Express yang berangkat dari stasiun Gambir pukul 06.00 menempuh perjalanan + 3 jam sampai akhirnya tiba di tujuan. Pada perjalanan kali ini saya diberi kesempatan untuk menyambangi kota Cirebon, dengan tujuan menambah pengalaman meski terdapat tujuan utama. Bersama satu rekan saya, kami menunggu jemputan untuk mengantarkan kami menuju tempat penginapan.

Sunday, 11 May 2014

Apakah yang Telah Diajarkan Para Orang Tua Terhadap Anak-Anaknya?

Tulisan Asma Nadia dalam Republika Online


Seorang gadis yang masih sehat mengutarakan kebenciannya terhadap ibu hamil di kereta api yang tiba-tiba minta duduk. Menurutnya, kenapa para ibu hamil tidak berangkat pagi-pagi dari stasiun yang sekalian jauh untuk memperoleh tempat duduk?

Saturday, 26 April 2014

Bagaimana Menegur Saudara, Rekan, Karyawan Ketika Mereka Melakukan Kesalahan

Dunia semakin tua, kehidupan pun sudah sekian lama berjalan, problematika makin beragam mulai dari persoalan A – Z seringkali dijumpai setiap harinya, entah itu persoalan diri sendiri, persoalan terhadap keluarga, persoalan dengan rekan sahabat maupun persoalan antar pegawai. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas sedikit terkait tata cara menegur, memarahi atau menasihati kepada rekan kita jika kita melihat mereka melakukkan kesalahan. Baik itu kesalahan yang dilakukan keluarga sendiri, teman sepergaulan dan khususnya yang sering terjadi adalah kesalahan yang dilakukan oleh pegawai terhadap pekerjaannya dan bagaimanakah cara atasan menegur/mengingatkan terkait hal ini?

Suatu ketika saya sedang iseng membaca buku Manajemen Syari’ah – Sebuah kajian Historis dan Kontemporer karya Dr. Ahmad Ibrahim Abu Sinn. Tepat pada halaman ke-122 saya tertarik untuk menuliskan tulisannya di blog ini. Berikut potongan tulisan beliau:

Rasulullah memberikan pelajaran bahwa para pejabat dan pegawai harus senantiasa dipantau dan dikoreksi, mereka harus ditunjukan kesalahan yang mungkin mereka lakukan. Akan tetapi, cara mengingatkannya harus bijaksana, tidak bisa dilakukan dihadapan khalayak ramai untuk menjaga kehormatan dan harga diri mereka. Hal ini tercermin dari kasus Iyadh bin Ghanam, pejabat Khalifah Umar r.a. suatu ketika Iyadh melakukan kesalahan, kemudian ditegur secara keras oleh Hisyam bin Hakin didepan orang banyak, sehingga Iyadh marah. Perseteruan ini mereda beberapa malam, kemudian Hisyam mendatangi Iyadh dan meminta maaf. Hisyam berkata kepada Iyadh:
Apakah engkau tidak mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya orang yang akan menerima siksa paling pedih adalah orang yang paling pedih menyiksa orang di dunia.”
Iyadh berkata:
Aku mendengar apa yang engkau dengar, dan melihat apa yang engkau lihat, apakah engkau tidak mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa menginginkan untuk memberikan nasihat kepada penguasa, maka janganlah diperlihatkan secara jelas...”
Jauh sebelum problematika dalam dunia perkantoran, usaha maupun sarana yang mempertemukan antara satu pihak dengan pihak lain terjadi, Rasulullah telah mengemukakan teori agar suatu kelompok dapat berjalan secara harmonis penuh kehangatan kekeluargaan, tidak ada didalamnya pertentangan yang terjadi. 

Kontemporer ini, seringkali suatu perusahaan mengalami penurunan produktivitas bukan hanya disebabkan oleh faktor kurangnya modal. Banyak dari mereka memiliki kekuatan modal namun pada perjalanannya produktivitas yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut sangatlah rendah. Hal ini tercermin karena pemilik maupun perumus perusahaan belum memiliki skema manajemen perusahaan yang baik. Salah satunya adalah manajemen didalam hubungan antara atasan dengan para pegawainya, seringkali para pegawai hanya dianggap sebagai faktor produksi, bukan sebagai rekan kerja dan keluarga sendiri yang akan bersama memajukan perusahaan terkait. Seringkali para atasan tidak menganggap bahwa pekerja juga manusia yang memiliki hati nurani. Dimana, ketika hati nurani mereka terganggu, maka output yang mereka hasilkan juga terganggu.

Sering terjadi bahwa beberapa atasan memarahi para pegawainya yang melakukan kesalahan dihadapan pegawai lainnya, mungkin hal ini akan bermanfaat dalam memberikan pelajaran kepada pegawai terkait untuk tidak mengulanginya lagi. Namun, hal seperti ini akan berdampak negatif kepada pegawai terkait karena jauh didalam hatinya ia merasa hina dihadapan rekan kerjanya. Ia merasa kecewa serta memendam rasa kesal yang menyebabkan aktivitasnya berjalan tidak lancar.

Adabnya adalah ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita maka hendaklah kita memanggilnya untuk mendengarkan penjelasannya baru mengingatkannya, jangan sampai, ketika ia melakukan kesalahan langsung dieksekusi di tempat dan membuat semua orang tahu akan kesalahan yang dilakukannya.

Harapannya, semoga kisah Iyadh di atas dapat memberikan sedikit gambaran bagaimana memperlakukan para pegawai yang melakukan kesalahan dalam pandangan Islam melalui pesan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Thursday, 24 April 2014

Budaya Menulis

Sempat merasakan kenikmatan menulis beberapa tahun terakhir, merasa dengan menulis saya dapat sedikit mengekspresikan pengalaman yang terjadi setiap detiknya, juga menumpahkan sedikit ilmu yang didapat dari kehidupan ini. Lambat laun saya pun sadar bahwa menulis adalah aktivitas ringan dengan kekayaan akan makna. Dengan menulis juga membiasakan diri untuk dapat mempertahankan budaya memanfaatkan waktu untuk suatu hal yang produktif.